The Conscientious objector – Seorang pathfinder yang diberikan penghargaan oleh Presiden Amerika

Judul Asli: Soldier For God
Ditulis oleh: Charles Mills
Diterbitkan oleh: Review and Herald Publishing 1994

Hei, lihat si pendeta! ” sebuah suara sarkastis dengan nada ejekan bergema di barak-barak kayu lebar Angkatan Darat di Fort Jackson, South Carolina.

Prajurit-prajurit baru dari Kompi D berbalik dan menatap sosok ramping muda berlutut di samping tempat tidur rendah. Mulut prajurit itu bergerak tanpa suara saat dia berdoa.

“Dia mungkin meminta Tuhan untuk membawanya keluar dari Angkatan Darat!” sahut yang lain. Tawa pun meledak dari kerumunan orang-orang berseragam hijau.

Tiba-tiba sebuah sepatu boot Angkatan Darat yang begitu berat melayang di atas ranjang laki-laki yang sedang berdoa ini dan menabrak lemari logam yang berdiri di dinding. Tak lama kemudian sepatu-sepatu yang lain ikut menyusul di udara, disertai dengan aliran ejekan dan komentar-komentar negatif.

Alunan sedih dari sebuah keran air seakan mengakhiri serangan tersebut ketika semua pria merebahkan diri mereka ke tempat tidur. Si Prajurit baru yang kesepian dengan rambut berombak gelap membisikkan kata-kata amin yang emosional dan menyelinap di bawah selimut zaitun-tipis yang menjemukan. Hari pertama Prajurit Satu Thomas di Angkatan Darat Amerika Serikat pun berakhir. Saat itu tahun 1942.

Thomas adalah seorang Masehi Advent Hari Ketujuh-sejak masih muda. Dia dibesarkan berdasarkan cerita Alkitab yang menceritakan para pria dan wanita yang tetap berdiri teguh pada kepercayaan agama mereka, bahkan ketika dihadapkan kepada bahaya dan kematian. Tapi belum pernah ia berpikir bahwa ia akan dipanggil untuk mendemonstrasikan imannya begitu berani.

Serangan Jepang di Pearl Harbor Hawaii pada bulan Desember 1941 telah mengantarkan Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia II. Thomas telah melapor segera setelah menerima pemberitahuan wajib militer.

“Saya akan senang untuk melayani negara saya,” kata Thomas kepada perwira militer yang menangani pendaftarannya, “tapi saya tidak akan membawa senjata. Biarlah saya bekerja sebagai petugas medis untuk mengobati orang yang terluka di medan perang.”

Dia cepat belajar bagaimana menggunakan bahan apa pun yang dipegangnya di tangan untuk membentuk pengobatan untuk lengan dan kaki yang patah. Dia mengajarkan cara mengelola plasma darah di tengah-tengah pertempuran, apa yang harus dilakukan untuk shock, dan kapan harus menyediakan air untuk yang terluka.

Tapi kerja keras dan dedikasi tidak cukup untuk menenangkan para penyiksanya. Sebisa mungkin mereka berusaha untuk menyingkirkannya dari Dinas Militer Aktif. Tapi semua yang dilakukan Thomas, dilakukannya dengan penuh dedikasi sebagai prajurit. Akhirnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka mengirimnya kembali ke kesatuannya Detasemen Medis Infanteri 307, Divisi Infanteri 77.

“Kalian semua sama,” ejek seorang sersan sarkastik di suatu hari. “Kau bicara besar tentang kebebasan beragama, tapi ketika negara mu membutuhkan mu untuk membantu melindungi kebebasan itu, kamu lari ketakutan seperti seekor ayam.”

“Saya mencintai negeri ini seperti halnya Anda, Sersan,” jawab Thomas dengan rasa hormat. “Saya hanya menolak untuk membunuh, itu saja.”

Ada alasan lain bagi Thomas untuk tidak populer. Dia bersikeras menjaga Hukum Ke Empat.

“Sekarang apa lagi mau mu?” atasannya mengerang, sebagai non-kombatan muda ia mendekati dengan rasa hormat.

“Pak, saya ingin menghadiri kebaktian gereja Sabtu ini, sebagaimana keyakinan saya mengajarkan saya.”

“Sabtu!” Pria itu tertawa kecil. “Mungkin kamu agak bingung, Prajurit. Angkatan Bersenjata sudah mengumumkan waktu istirahat pada hari Minggu.”

“Saya mengerti, Pak,” dengan rasa tertekan. “Tapi saya percaya pada Alkitab bahwa Sabat adalah hari ketujuh dalam seminggu yaitu hari Sabtu. Allah meminta kita untuk tetap kudus dengan menyembah-Nya dan menahan diri dari semua pekerjaan. Aku akan dengan senang hati melakukan tugas ganda pada hari Minggu.”

Dengan rasa terpaksa atasannya mengeluarkan ijin keluar di hari Sabtu untuk Thomas. Dalam pertempuran kemauan antara Angkatan Darat Amerika Serikat dan Prajurit Satu Thomas, seseorang harus mundur. Dan yang pasti bukanlah Thomas.

Alarm pagi menembus udara panas. “Bangun kamu dasar anak mama,” raung sersan. “Hari ini kita punya 25 mil long march full packing yang sudah menunggumu.”

“Hei, Pendeta, berhasil juga kamu,” geram suara yang dikenalnya disaat orang-orang mulai berkumpul di tempat pelatihan. “Tidak ada senapan, tidak ada amunisi-mungkin Anda dapat berhenti dan mengambil beberapa bunga di sepanjang jalan.”

Banyak yang tidak senang melihat Thomas kembali bersama-sama dengan mereka. Bahkan ada diantara mereka yang berkata,”Jika kita sampai dipertempuran yang sengit, aku sendiri yang akan membunuhmu nanti!!!” Thomas menyeringai tetapi tidak menanggapi. dua ransel P3Knya memiliki berat dua kali lipat dari senapan. Tetapi keimanan Kristennya tidak kendur hari ini.

Long March pun dimulai. Segera keringat pun mulai menyebabkan seragam lapangan menempel pada pemakainya seperti lem . Saat mendekati tengah hari, para prajurit terhuyung-huyung seperti zombie, mata merah, wajah pucat.

Tiba-tiba seorang pria jatuh. Thomas bergegas ke sisinya. kata-kata instrukturnya bergema di telinganya. “Ah dia hanya kelelahan karena panas.”

Thomas membuat korban senyaman mungkin dan membawanya ke ambulans yang mengikuti agak jauh di belakang. Lalu ia harus kembali berlari untuk mengejar ketinggalan dengan kompinya.

Ketika siang tiba barulah mereka beristirahat. Ransum makanan dengan cepat menghilang di tenggorokan yang lapar. Ketika Thomas mengambil gigitan pertama makanannya, seorang tentara yang berada di bawah pohon kecil berteriak meminta bantuan. Orang itu memeriksa luka melepuh yang cukup besar di telapak kakinya.

“Lakukan sesuatu,” pintanya.

“Akan ku coba,” Thomas meyakinkan rekannya. Dengan cepat dia memecahkan melepuh si korban dengan jarum steril, menyirami daerah luka dengan Merthiolate, kemudian membalut erat-erat dengan kain kasa. Ketika ia selesai, suara lain memanggil bantuan terdengar. Lalu yang lain.

Korban-korban yang berjatuhan terus membuat Thomas melompat saat istirahat dan sepanjang perjalanan pulang. Meskipun dia berlarian kesana kemari, tapi ia menyelesaikan latihan dengan peletonnya. Bahkan saat berbaris menunggu pemberhentian, tiga orang pingsan karena demam. Thomas bergegas membantu mereka.

Kemudian ketika semua tentara berada di bunker mereka dengan sepatu mereka yang terbuka. Prajurit Thomas masih tidak beristirahat. Dia memeriksa setiap kaki.

Pagi itu beberapa diantara mereka telah mengejek dia,mengancam dia. Sekarang, berbaring kelelahan, mereka menyaksikan bagaimana si petugas medis ini berlutut dengan penuh kelemah lembutan di bunker mereka dan merawat kaki mereka.

“Hei, Pendeta,” terdengar sebuah suara yang mengalun dengan rasa hormat, “kau tidak apa-apa.”

Ejekan-ejekan itu berhenti, diganti dengan kata-kata terima kasih dan persahabatan.

Untuk Prajurit Thomas dan anggota lainnya dari Kompi D, sebuah ujian besar telah menanti mereka di depan. Pada sebuah pulau di Pasifik yang jauh, Okinawa, tak terbayangkan sebuah kengerian yang sedang menunggu mereka disana.

Be strong and courageous. Do not be afraid or terrified because of them, for the LORD your God goes with you; he will never leave you nor forsake you.” Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”
Deuteronomy 31:6

Cerita sejauh ini: Prajurit Thomas, seorang Masehi Advent Hari Ketujuh, melayani sebagai prajurit medis dalam Perang Dunia II. Pada awalnya dia dilecehkan karena agamanya Masehi Advent Hari Ketujuh, tapi sesama prajurit secara bertahap datang untuk menghormatinya. Tak lama kemudian Kompinya Kompi D diberangkatkan ke pulau Okinawa, sebuah tempat pertempuran yang sangat menakutkan.

”Semua tergantung kepada kita sekarang” Seorang perwira menunjuk ke arah utara ke tebing tinggi yang menghalangi sebuah lereng bukit “Kita akan memanjat ke sana dan merebut tempat itu dari mereka (Tentara Jepang)! ”

Satu per satu prajurit mulai memanjat tepian jurang yang curam itu, kemudian merayap di atas perutnya, mengumpulkan batu longgar dan mendorong mereka bersama-sama, mencoba untuk membentuk sebuah dinding batu pelindung beberapa meter dari tepi tebing.

Sebuah tali dilemparkan ke bawah, sehingga memudahkan para prajurit dari regu yang lain untuk memanjat benteng vertical itu.

Whump! Whump! Suara mortir-mortir musuh yang ditembakan tinggi ke udara, diikuti oleh ledakan yang menghancurkan bumi ketika peluru menabrak tanah. Dari lokasi serangan udara ini tidak ada tempat berlindung bagi anggota Kompi D yang tak berdaya ini.

“Mundur!” perintah terdengar. “Mundur kembali ke markas!”

Keesokan harinya diadakan serangan lagi. Dengan tali kargo bersih yang baru dipasangkan di tempat itu, seluruh peleton bisa mengerumuni tebing seutuhnya.

“Ini akan menjadi misi berbahaya, Thomas,” atasannya berkata kepada prajurit medis nya yang lelah karena pertempuran ini. “Anda tidak perlu pergi.”

Thomas mengangguk. “Pak, saya mungkin diperlukan Tapi Saya ingin minta tolong
sebelum kita mulai..

Saya percaya bahwa doa adalah penyelamat terbesar yang ada sekarang. Ada baiknya setiap orang harus berdoa sebelum dia naik. ”

Letnan itu berbalik dan memanggil anak buahnya. “Tundukan kepala Kalian,” perintahnya. “Thomas akan berdoa untuk kita sebelum kita pergi.”

Thomas terkejut. Yang dia maksudkan adalah agar setiap prajurit berdoa secara pribadi. Tapi dia pun akhirnya membungkukan badannya.

“Bapa kami,” ia berdoa, “tolong berikan hikmat dan pengertian kepada Letnan kami supaya dia bisa memberikan kami perintah yang tepat, karena hidup kami akan berada dalam tanggung jawabnya. Berikan masing-masing dari kami kebijaksanaan juga, sehingga kami bisa selamat, jika itu adalah kehendakMu. Tuhan, biarlah kami semua bisa kembali dengan selamat. Jika ada di sini yang tidak siap untuk bertemu dengan Pencipta mereka, biarkan mereka sekarang mempersiapkan diri melalui doa sebelum mereka memanjat tebing.. Kami meminta semua ini dalam nama Yesus. ”

Perang di tebing curam masih berlangsung disaat setiap orang masih berdiri terpaku tanpa gerakan. Lalu dengan percaya diri mereka berpaling ke jaring kargo dan mulai naik ke tebing.

Serangan itu berhasil. Ketika pertempuran berhenti, tebing curam Maeda sudah berada di tangan Amerika. Diatas semuanya itu Kompi Thomas hanya menderita satu luka ringan. Orang-orang takjub. Thomas tidak. Bukankah mereka berdoa?

Cerita sebelumnya: Kompi D, Kompi dimana Prajurit Thomas bertugas sebagai petugas medis akhirnya diberangkatkan menuju medan pertempuran yang paling ditakuti, medan tempur Okinawa. Dan benar saja sesampainya disana mereka dihadapkan pada sebuah tebing terjal yang curam, yang mereka namakan tebing curam Maeda. Kompi pun ditugaskan untuk merebut tebing itu dari para tentara Jepang tapi mereka malah dipukul mundur. Keesokan harinya mereka mencoba membangun serangan lagi, hanya saja kali ini Prajurit Thomas mengusulkan untuk berdoa secara pribadi-pribadi sebelum berangkat. Dan ia terkejut ketika sang Komandan memerintahkan anak buahnya,”Tundukan kepala kalian, Thomas akan berdoa untuk kita.” Suatu keajaiban terjadi, tebing itu berhasil direbut oleh tentara Amerika dan Kompi D, kompi dimana prajurit Thomas berada hanya menderita satu korban cedera. Mereka semua terkejut. Thomas tidak. Bukankah mereka berdoa?

Tapi beberapa hari kemudian keberuntungan berbalik. 5 May 1945 dari lubang-lubang rahasia di tanah dan gua-gua di batu bagaikan air tertuang, para prajurit musuh terus menerus keluar. Jeritan mereka yang mengerikan, bunyi rentetan senjata otomatis, dan bunyi granat tangan meledak memenuhi udara.

Para prajurit Amerika tiba-tiba menemukan diri mereka dalam pelarian. Pada awalnya perintah mundur itu tertib; lalu garis pertahanan pun pecah saat para prajurit berlarian berebut untuk memanjat tebing dan menuruni tali kargo yang sudah terpasang. Para prajurit yang terkena peluru dan pecahan granat ditinggalkan dimana mereka telah jatuh, terluka atau mati.

Sekarang yang tersisa dari seluruh battalion hanyalah seorang prajurit medis bernama Thomas, seorang diri dia berlarian kesana kemari dari satu korban ke korban yang lain melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk menolong teman-temannya. Dia tidak punya waktu untuk berpikir tentang para tentara Jepang dipuncak bukit yang sesaat saja bisa mendekat ke posisinya berada.

Bantuan tembakan perlindungan dari teman-temannya menghentikan laju tentara Jepang beberapa meter dari bibir tebing. Sedikit terlindungi oleh dinding yang tidak terlalu tinggi yang didirikan sebelumnya oleh kompinya, Thomas mendapati dirinya sendirian dipuncak bukit, dikelilingi oleh para prajurit yang mati dan sekarat. Dia terperangkap dalam baku tembak dan tidak ada tempat lain yang bisa dituju selain ke atas tebing.

Tapi bagaimana dengan yang terluka? Dia tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka di sana. Mereka akan mati ditangan musuh yang semakin mendekat.

“Tuhan,” si tentara tanpa senjata menangis di atas hiruk-pikuk pertempuran, “tolong bantu saya!”

Jawaban untuk doa-nya datang bukan seperti keajaiban pistol tanpa suara, tapi sebagai suara yang berbicara pelan dalam hatinya. Di atas gemuruh pertempuran ia mendengar bisikan surgawi Bapa-Nya yang di surga, “Para prajurit, Thomas. Selamatkan para prajurit di sekitar mu.”

Dia merespon dengan segera. Meskipun hari itu adalah hari sabtu yakni Sabat hari ketujuh Thomas memahami perintah Yesus adalah tepat “berbuat baik” pada hari Sabat dengan menyelamatkan nyawa.
Meraih seorang tentara yang terluka di dekat situ, Thomas menariknya ke jurang. Mengikatkan tali di pinggang dan dada prajurit itu, ia lalu menguji simpulnya. Setelah teruji, ia menurunkan korban tersebut di pinggiran jurang. Keterampilan tali-temali yang dikuasainya dipelajarinya ketika dia aktif di sebuah kelompok pemuda Masehi Advent Hari Ketujuh yang disebut Pathfinder.

“Bawa dia pergi!” Thomas berteriak ke arah orang-orang yang mencoba untuk menenangkan tali yang mengayun menggantung di ujung tali jauh di bawah. “Masih banyak lagi yang terluka diatas sini. Bawa dia ke tenda medis cepat! Dia sekarat.”

Prajurit yang terluka menjerit kesakitan ketika tangan mereka melonggarkan simpul dan menurunkannya dengan lembut ke sebuah tandu yang sedang menunggu. Tentara itu melihat sekilas lalu menarik kembali tali tersebut keatas tebing.

Thomas menggeliat diatas perutnya di balik dinding batu pelindungan itu. Peluru-peluru yang ditembakan musuh menghantam batu perlindungan dan pecah hanya beberapa inci saja dari kepalanya. Namun prajurit medis ini tidak berhenti.

Dia memasukan kaki prajurit yang lain melalui lingkaran di tali dan menariknya ke tepi. Dengan cepat ia memasangkan tali di sekitar dada prajurit itu dan diikat dengan simpul yang aman.

Prajurit-prajurit di dasar tebing itu melihat bentuk ikatan yang lain turun dari puncak bersama seorang prajurit berwajah kasar dipenuhi tanah, melonggarkan tanah dan kerikil yang meluncur ke arah mereka. Thomas tegang, tumitnya menggali ke dalam tanah berbatu, berusaha agar orang yang terluka tidak terlalu cepat turun kebawah. Jari-jemari prajurit medis ini terbakar ketika tali meluncur melalui telapak tangannya.

“Bawa dia kembali ke medis cepat!” Thomas berteriak di atas bunyi senjata mesin dan tebaran-tebaran dari mortir. Debu-debu dan batuan-batuan yang berat dilemparkan oleh ledakan mortar yang melayang dan menghantam di sepanjang tebing, membuat tugasnya lebih berbahaya.

Secepat mungkin Thomas menurunkan satu demi satu prajurit yang terluka ke dasar tebing curam tersebut. Beberapa kali ia harus mengangkat kepala di atas dinding pelindung untuk mengikat tali di sekeliling prajurit yang terluka. Mengapa tidak ada peluru Jepang yang menghantam helmnya, ia tidak tahu. Allah pasti sedang bersama denganku itu yang terlintas dalam pikirannya.

Thomas tetap berada di atas tebing selama dua belas jam sampai dia menurunkan setiap prajurit terluka untuk diselamatkan. Jumlah total tidak resmi yang diselamatkan hari itu dikatakan sebanyak 100 orang. “Tidak lebih dari 50 orang saja,” Thomas bersikeras dengan rendah hati dikemudian hari. Tetapi berdasarkan penyelidikan dari departemen pertahanan tercatat jumlah resmi yang diselamatkan oleh Prajurit Thomas pada saat itu adalah 75 orang.

Hanya setelah semua prajurit yang terluka telah mencapai bagian bawah tebing curam itu barulah prajurit medis yang lembut dan menolak membawa senjata ini turun menuruni jaring kargo tersebut. Thomas seorang diri menyelamatkan nyawa lebih dari setengah prajurit yang ikut ambil bagian dalam serangan itu.

Dahulu kawan-kawannya beranggapan bahwa dia akan mati karena tidak membawa senjata, tapi justru sebaliknya, Thomas bertahan sampai akhir. Mereka menghinanya karena kebiasaannya yang berbeda dengan mereka yaitu, berdoa dan membaca alkitab setiap hari secara teratur. Tapi doanyalah yang ternyata menyelamatkan mereka.

Epilog:

Pada pertempuran berikutnya Prajurit Thomas terluka parah saat menyelamatkan nyawa teman-teman sesama prajuritnya itupun setelah ia melakukan beberapa penyelamatan. Ia dikirim pulang untuk mendapatkan perawatan penyembuhan.

Pada tanggal 12 Oktober 1945, Presiden Harry Truman memberikan medali penghargaan tertinggi Negara The Congressional Medal of Honor kepada Kopral Desmond Thomas Doss dari Detasemen Medis Infanteri 307th, Divisi Infanteri 77th medali penghargaan tertinggi Amerika Serikat untuk keberanian dalam pertempuran. Pada saat memberikan penghargaan ini Presiden Truman berkata,”Aku bangga padamu, kamu benar-benar layak untuk mendapatkannya.Saya menganggap ini suatu kehormatan yang lebih besar daripada menjadi Presiden.”

Pengabdian teladan Kopral Desmond Thomas Doss kepada Allah dan negaranya telah mendapat perhatian nasional. Pada tanggal 4 Juli 2004, sebuah patung Desmond ditempatkan di Museum Nasional Patriotisme di Atlanta, bersama dengan patung Dr Martin Luther King, Presiden Jimmy Carter, dan pensiunan Jenderal Korps Marinir Jenderal Gray Davis, juga para penerima Medali Kehormatan yang lain. Juga pada tahun 2004, sebuah film dokumenter fitur-panjang yang disebut “The Conscientious Objector,” menceritakan kisah Doss mengenai iman, kepahlawanan, dan keberaniannya telah dirilis. Sebuah film cerita yang menggambarkan cerita tentang Doss juga sedang direncanakan.

23 Maret 2006 Amerika Serikat dan seluruh anggota GMAHK diseluruh dunia yang mengaggumi akan keberanian dan keteguhan iman dari Kopral Desmond Thomas Doss berduka, Desmond Doss meninggal dunia dirumahnya di Piedmont, Alabama. Kopral Desmond Thomas Doss dimakamkan dengan upacara kemiliteran penuh di Taman Makam Pahlawan Chattanooga.

9 Juli 2008 Pemerintah Amerika Serikat memberikan penghargaan lainnya kepada Desmond Doss, namanya digunakan pada Pusat Kesehatan Angkatan Darat Walter Reed di Washington D.C. Walter Reed Guest House Doss Memorial Hall itulah nama yang diberikan, sahut Komandan Brigade Pusat Kesehatan Angkatan Darat Kol. Gordon. R. Roberts yang sudah mengenal Doss lebih dari 30 tahun. Menurutnya Doss adalah seorang Prajurit Amerika yang unik dengan cerita yang unik pula. Roberts mendeskripsikan Doss sebagai seorang yang seharusnya “mendapat lebih tapi hanya menerima sedikit”. Dia menjelaskan Doss sering diejek oleh sesama prajurit karena seringnya ia berdoa secara teratur. Ketika unit dimana Doss berada ditanyakan pertanyaan bagaimana kalian bisa selamat dari serangan balik tentara jepang, mereka menjawab, “Semua karena doa dari Desmond Doss.”

Tapi hadiah terbesar Desmond belum akan datang segera. Surga akan diisi dengan para pahlawan. Dan Desmond Doss akan bergabung dalam nyanyian pujian bagi Dia, yang ribuan tahun yang lalu, menunjukan kepada dunia bagaimana untuk mengutamakan orang lain dahulu diatas kepentingan pribadi.

Kiranya Kisah dari Desmond Doss menjadi Ilham dan contoh dalam hidup kita sebagai Anggota Masehi Advent hari ketujuh khususnya Pathfinder dan Master Guide yang juga adalah TENTARA TUHAN yang bersenjatakan senjata-senjata rohani untuk mengabarkan kabar keselamatan kepada dunia sebagaimana dilakukan oleh Desmond Doss
Tuhan memberkati

Selamat Sabat
Maranatha!!
Pathfinder Indonesia officers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s